BAKALAN – Ribuan warga Desa Bakalan tumpah ruah ke jalanan dalam perayaan Sedekah Desa yang berlangsung meriah pada Jumat (15/05). Acara tahunan ini menjadi sorotan utama berkat hadirnya Kirab 1000 Tumpeng yang menyimbolkan rasa syukur masyarakat atas melimpahnya hasil bumi dan kerukunan antarwarga. Sejak pagi hari, barisan warga yang mengenakan pakaian adat tradisional tampak memikul berbagai bentuk tumpeng—mulai dari nasi kuning hingga tumpeng hasil bumi berupa sayur-mayur dan buah-buahan. Sebanyak 1.000 tumpeng dikirab dari balai desa menuju titik pusat perayaan, menciptakan pemandangan layaknya lautan tumpeng yang memukau wisatawan dan warga luar daerah. Kepala Desa Bakalan menyatakan bahwa angka 1.000 bukan sekadar jumlah, melainkan simbol tekad bulat warga untuk saling berbagi. "Ini adalah bentuk shodaqoh jariyah warga. Setelah didoakan bersama, tumpeng-tumpeng ini dinikmati bersama-sama. Tidak ada sekat, semua bersatu dalam rasa syukur," ujarnya di sela-sela acara. Kemeriahan tidak berhenti pada kirab siang hari. Sebagai puncak acara, suasana Desa Bakalan berubah menjadi khidmat sekaligus menghibur dengan diadakannya Pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk. Tampil sebagai pemegang tongkat estafet budaya, dalang kondang Ki Susilo Wibowo membawakan lakon yang sarat akan pesan moral dan kepemimpinan. Suara keprak dan alunan gamelan yang dibawakan oleh kelompok pengrawit pengiring berhasil memukau ratusan penonton yang bertahan hingga dini hari. Dalam sabetannya, Ki Susilo Wibowo menyelipkan pesan-pesan tentang pentingnya menjaga alam dan kerukunan desa, yang sangat relevan dengan semangat Sedekah Desa Bakalan tahun ini. Acara Sedekah Desa Bakalan tahun 2026 ini membuktikan bahwa tradisi lokal tetap memiliki tempat di hati generasi muda. Banyaknya partisipasi pemuda desa dalam mengorganisir kirab menunjukkan bahwa nilai-nilai adiluhung tidak luntur ditelan zaman. "Kami berharap acara ini tidak hanya menjadi seremoni rutin, tetapi menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu membumi dan menjaga warisan leluhur," tutup salah satu tokoh masyarakat setempat. Dengan suksesnya Kirab 1000 Tumpeng dan pagelaran wayang ini, Desa Bakalan kembali mengukuhkan posisinya sebagai desa yang kuat dalam memegang teguh tradisi gotong royong dan pelestarian budaya Nusantara. Acara Sedekah Desa Bakalan yang menghadirkan Kirab 1000 Tumpeng dan Pagelaran Wayang Kulit oleh Ki Susilo Wibowo merupakan manifestasi nyata dari rasa syukur kolektif masyarakat terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai ritual adat, tetapi juga sebagai instrumen penguat solidaritas sosial dan pelestarian budaya Jawa di tengah arus modernisasi. Kombinasi antara kirab tumpeng dan pertunjukan wayang kulit menegaskan identitas Desa Bakalan sebagai masyarakat yang religius sekaligus berbudaya. Tumpeng melambangkan hubungan vertikal manusia dengan Sang Pencipta, sementara lakon yang dibawakan Ki Susilo Wibowo memberikan tuntunan moral (edukasi) bagi warga untuk menjalani kehidupan bermasyarakat yang harmonis dan bijaksana. Partisipasi warga dalam menyediakan 1.000 tumpeng menunjukkan tingkat kerukunan yang sangat tinggi. Pemilihan wayang kulit dengan dalang Ki Susilo Wibowo membuktikan bahwa seni tradisional masih menjadi sarana hiburan sekaligus tuntunan utama bagi warga. Selain nilai spiritual, acara ini berhasil menggerakkan ekonomi lokal dan mempererat tali silaturahmi antarwarga desa. "Sedekah Desa Bakalan tahun ini sukses memadukan simbolisme syukur (tumpeng) dengan filosofi kehidupan (wayang), menciptakan sebuah perayaan yang tidak hanya meriah secara visual, tetapi juga mendalam secara spiritual."