Majelis Moloekatan Gus Miek memang memiliki ikatan kuat dengan Pondok Pesantren Al-Mubarok Sumobito, Jombang. Berdasarkan informasi yang ada, majelis ini merupakan kegiatan semaan Al-Qur'an dan Dzikrul Ghofilin yang meneruskan warisan dakwah spiritual KH. Hamim Tohari Jazuli (Gus Miek). Pondok Pesantren Al-Mubarok Sumobito sering menjadi tuan rumah bagi agenda besar Moloekatan. Acara ini biasanya dipimpin langsung oleh keturunan Gus Miek, terutama Gus Thuba (putra Gus Robert Tijani), yang saat ini menjadi figur sentral dalam menggerakkan Moloekatan di berbagai daerah, Kehadiran Gus Thuba di Al-Mubarok Sumobito selalu menarik ribuan jamaah dari berbagai kota (Kediri, Jombang, Mojokerto). Gaya kepemimpinannya yang kharismatik dinilai sangat merepresentasikan kakeknya, Gus Miek, Tradisi Moloekatan merujuk pada kegiatan zikir yang dilakukan dengan suasana yang mendalam dan biasanya berlangsung secara estafet dari satu lokasi ke lokasi lain dalam jadwal rutin, Istilah ini merujuk pada kegiatan zikir yang dilakukan dengan suasana yang mendalam dan biasanya berlangsung secara estafet dari satu lokasi ke lokasi lain dalam jadwal rutin.Pondok Al-Mubarok Sumobito sendiri dikelola oleh keluarga besar yang memiliki sanad keguruan dan kekeluargaan yang erat dengan keluarga besar Ploso (Ponpes Al-Falah), tempat asal Gus Miek. Oleh karena itu, Sumobito menjadi salah satu "titik tetap" atau pangkalan penting bagi pergerakan jamaah Dzikrul Ghofilin di wilayah Jombang Timur. Pondok Al-Mubarok Sumobito berfungsi sebagai episentrum atau pangkalan utama bagi jamaah Dzikrul Ghofilin dan Semaan Al-Qur’an Jantiko Mantab di wilayah Jombang Timur. Kehadiran majelis Moloekatan di sini bukan sekadar acara rutin, melainkan upaya menjaga "sanad" spiritual yang diwariskan oleh Gus Miek. Kegiatan Moloekatan di Al-Mubarok saat ini identik dengan kehadiran Gus Thuba Topo Broto maneges. Hal ini menunjukkan adanya transisi dan keberlanjutan dakwah Gus Miek ke generasi muda, di mana sosok Gus Thuba menjadi magnet utama yang menyatukan ribuan jamaah dari berbagai lapisan sosial. Sesuai dengan filosofi Dzikrul Ghofilin (zikir untuk orang-orang yang lalai), Moloekatan di Sumobito menjadi ruang inklusif. Pesantren Al-Mubarok tidak hanya menjadi tempat bagi santri, tetapi juga menjadi wadah bagi masyarakat umum—termasuk mereka yang merasa jauh dari agama—untuk kembali "mengisi baterai" spiritual melalui zikir dan semaan Al-Qur'an. untuk sosial: Mempererat silaturahmi antar-jamaah (muhibbin) dari lintas kota, Ekonomi Kerakyatan: Menghidupkan sektor ekonomi mikro di sekitar Sumobito melalui munculnya pedagang kaki lima dan aktivitas ekonomi warga setempat selama acara berlangsung. Moloekatan Gus Miek di Ponpes Al-Mubarok Sumobito adalah perpaduan antara pelestarian tradisi langit (doa dan zikir) dan penguatan akar bumi (silaturahmi dan ekonomi warga), yang semuanya terpusat pada kharisma keluarga besar keturunan Gus Miek.